Loading...

Majas Hiperbola dalam Teks Novel Sang Pemimpi

Guruberbahasa.com-Majas Hiperbola dalam Teks Novel Sang Pemimpi

Hiperbola adalah ungkapan kata yang melebih-lebihkan apa yang sebenarnya dimaksudkan baik jumlah, ukuran, atau sifatnya. Hasil analisis dalam novel Sang Pemimpi terdapat gaya bahasa hiperbola, yaitu sebagai berikut. 

1) Kami bertiga baru saja berlari semburat, pontang panting lupa diri karena  dikejar-kejar seorang tokoh paling antagonis (SP, 2). Kalimat tersebut dapat dikategorikan sebagai gaya bahasa hiperbola karena melebihlebihkan  kata “berlari” dengan memanfaatkan kata “pontang-panting” terkesan mereka berlari terbirit-birit tanpa arah.  

2) Di berandanya, dahan-dahan merunduk kuyu menekuni nasib anak-anak nelayan yang terpaksa bekerja (SP, 2-3). Kalimat “dahan-dahan merunduk kuyu menekuni nasib anak-anak nelayan yang terpaksa bekerja”, dapat dikategorikan sebagai gaya bahasa hiperbol karena untuk “dahan yang merunduk kuyu” dirasa berlebihan karena tidak ada dahan yang bisa memahami nasib anak-anak nelayan.  

3) Dangdut india dari kaset yang terlalu sering diputar meliuk-liuk pilu dari pabrik itu (SP, 3). Kalimat tersebut di atas dapat dikategorikan sebagai gaya bahasa hiperbola karena pemutaran kaset apapun tidak ada yang diputar meliuk-liuk, apalagi sampai pilu, jadi kalimat tersebut terlalu melebih-lebihkan. 

4) Pak Mustar merenggut kerah bajuku, menyentakkan dengan keras sehingga seluruh kancing bajuku putus. Kancing-kancing itu berhamburan ke udara, berjatuhan gemerincing. Aku meronta-ronta dalam genggamannya, menggelinjang, dan terlepas! (SP, 12). Kalimat tersebut dapat dikategorikan sebagai gaya bahasa hiperbola karena terlalu lelebihlebihkan.  Seakan-akan Pak Mustar adalah sosok yang sangat kejam sebagai guru dengan menganiaya Ikal sampai meronta-ronta.   

5) Suara Pak Mustar membahana (SP, 13). Kalimat tersebut dikategorikan sebagai gaya bahasa hiperbola karena kata “membahana” seakan-akan melebih-lebihkan suara Pak Mustar yang sangat keras.  

6) Kulirik sejenak jejeran panjang tak putus-putus pagar nan ayu, ratusan jumlahnya, berteriak-teriak histeris membelaku, hanya membelaku sendiri, sebagian melonjak-lonjak, yang lainnya membekap dada,…(SP, 13). Kalimat tersebut dikategorikan sebagai gaya bahasa hiperbola karena terlalu melebih-lebihkan sikap manusia yang berteriak histeris, melonjaklonjak  dengan barisan yang panjang. Kata “ayu” juga seakan-akan melambangkan kecantikan manusia, padahal yang digambarkan adalah barisan panjang dan rapi.  

7) Wajah kami seketika memerah saat bau amis yang mengendap lama menyeruak (SP, 18). Kalimat tersebut dikategorikan sebagai gaya bahasa hiperbola karena terlalu melebih-lebihkan ketika mencium bau amis wajahnya berubah memerah.  

8) Terpanaku mengkilat mengancam Arai. (SP, 18). Kalimat tersebut dapat dikategorikan sebagai gaya bahasa hiperbola karena terlalu melebihlebihkan, karena kata “mengkilat” tidak akan bisa mengancam manusia.  



9) Lamunanku terhempas di atas meja batu pualam putih yang panjang. (SP, 21). Kalimat tersebut dikategorikan sebagai gaya bahasa hiperbola karena kata “lamunanku” seakan-akan adalah benda hidup yang dapat terhempas di atas meja.  

10) Jantungku berdetak satu per satu mengikuti derap langkah Nyonya Pho mendekati peti. (SP, 22). Kalimat di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa hiperbola karena kata “jantungku” terlalu membesar-besarkan seperti benda hdup yang dapat mengikuti langkah manusia.
-
Loading...