Loading...

Bagaimana Penyebaran Suku dan Budaya Betawi?

Sejarah terbentuknya masyarakat Betawi di Jakarta (Batavia) terbilang panjang, sepanjang perjalanan sejarah terbentuknya kota Jakarta. Orang Betawi sendiri pada umumnya tidak mengetahui legenda yang menceritakan asal muasal diri mereka.  Di Desa Ciracas, Kecamatan Pasar Rebo, Jakarta Timur, dikenal cerita yang mengisahkan orang Betawi sebagai keturunan pria Demak yang menikah dengan wanita Cina. Orang Betawi telah ada jauh sebelum Gubernur Jendral VOC Jan Pieterszoon Coen membumihanguskan kota Jayakarta pada 1619, yang kemudian didirikan diatas reruntuhannhya sebuah kota yang diberi nama Batavia. Jadi tidaklah benar bila ada yang mengatakan bila orang Betawi itu adalah keturunan budak yang didatangkan VOC untuk mengisi kota benteng Batavia (intramuros). Ada beberapa ahli sejarah yang concern dengan sejarah terbentuknya orang Betawi.
 
 
Seorang ahli budaya Betawi Ridwan Saidi, memaparkan bila cikal bakal sejarah orang Betawi dihubungkan dengan seorang tokoh bernama Aki Tirem yang hidup di daerah Kampung Warakas (Jakarta Utara) pada abad ke dua. Aki Tirem ini hidup dari membuat periuk, namun rumahnya sering disatroni bajak laut untuk merampok priuk buatannya. Karena kewalahan melawan bajak laut sendirian, maka ia pun memutuskan mencari perlindungan dari sebuah kerajaan. Saat itulah Dewawarman seorang berilmu dari India yang menjadi menantunya dimintanya mendirikan kerajaan dan raja. Maka pada tahun 130 berdirilah kerajaan pertama di Jawa yang namanya Salakanagara. Salakanagara nagara menurut Ridwan berasal ari bahasa Kawi salaka yang artinya perak.

Secara etimologi kemudian Salakanagara ini dikaitkan oleh Ridwan dengan laporan ahli geografi Yunani bernama Claudius Ptolomeus pada tahun 160 dalam buku Geografia yang menyebut bandar di daerah Iabadiou (Jawa) bernama Argyre yang artinya Perak. Hal ini pun dihubungkan dengan laporan dari Tiongkok, jaman Dinasti Han yang pada tahun 132 mengabarkan tentang kedatangan utusan Raja Ye Tiau bernama Tiao Pien.

Raja Ye Tiau dipersonalisasikan sebagai Jawa dan Tiau Pien sebagai Dewawarman. Termasuk dalam hal ini yang disebut oleh sejarawan Slamet Muldjana sebagai Kerajaan Holotan yang merupakan pendahulu Kerajaan Tarumanagara dalam bukunya Dari Holotan sampai Jayakarta adalah Salakanagara.

Soal letak Salakanagara, Ridwan menunjuk kepada daerah Condet. Menurutnya, di kawasan Condet ini pohon salak tumbuh subur dan banyak sekali nama-nama tempat yang bermakna sejarah, seperti Bale Kambang dan Batu Ampar. Bale Kambang adalah pasangrahan raja dan Batu Ampar adalah batu besar tempat sesaji diletakkan.

Di Condet pun terdapat makam kuno yang disebut penduduk Kramat Growak dan makam Ki Balung Tunggal yang ditafsirkan Ridwan adalah tokoh dari zaman kerajaan pelanjut Salakanagara yaitu Kerajaan Kalapa. Tokoh ini menurut Ridwan adalah pemimpin pasukan yang tetap melakukan peperangan walaupun tulangnya tinggal sepotong maka lantaran itu dijuluki Ki Balung Tunggal.

Setelah menunjuk bukti secara geografis, Ridwan pun melengkapi teorinya tentang cikal bakal sejarah orang Betawi dengan sejarah perkembangan bahasa dan budaya Melayu agar dapat semakin terlihat batas antara orang Betawi dengan orang Sunda. Ia pergi ke abad 10. Saat terjadi persaingan antara wong Melayu yaitu Kerajaan Sriwijaya dengan wong Jawa yang tak lain adalah Kerajaan Kediri. Persaingan ini kemudian menjadi perang dan membawa Cina ikut campur sebagai penengah karena perniagaan mereka terganggu. Perdamaian tercapai, kendali lautan dibagi dua, sebelah timur mulai dari Cimanuk dikendalikan Sriwijaya, sebelah timur mulai dari Kediri dikendalikan Kediri. Artinya pelabuhan Kalapa termasuk kendali Sriwijaya.

Sriwijaya kemudian meminta mitranya yaitu Syailendra di Jawa Tengah untuk membantu mengawasi perairan teritorial Sriwijaya di Jawa bagian barat. Tetapi ternyata Syailendara abai maka Sriwijaya mendatangkan migran suku Melayu Kalimantan bagian barat ke Kalapa. Pada periode itulah terjadi persebaran bahasa Melayu di Kerajaan Kalapa yang pada gilirannya – karena gelombang imigrasi itu lebih besar ketimbang pemukin awal – bahasa Melayu yang mereka bawa mengalahkan bahasa Sunda Kawi sebagai lingua franca di Kerajaan Kalapa.

Ridwan mencontohkan, orang “pulo”, yaitu orang yang berdiam di Kepulauan Seribu, menyebut musim di mana angin bertiup sangat kencang dan membahayakan nelayan dengan “musim barat” (bahasa Melayu), bukan “musim kulon” (bahasa Sunda). Orang-orang di desa pinggiran Jakarta mengatakan “milir”, “ke hilir” dan “orang hilir” (bahasa Melayu Kalimantan bagian barat) untuk mengatakan ke kota dan orang kota.

-
Loading...